Puisi: Sabda_AL "Tangisan Rindu Gazel 6"

Ada tangis yang ditahan oleh langit. Dan rindu yang semakin keruh mengendap diranting-ranting tua. Ada hati yang meratap pada bagian yang bakal hilang. Ada rasa yang tidak disengaja datang menjadi kedamaian. Selintas ketakutan tiba dan menduduki akal.

“Cinta..... adalah dewi yang kejam, dan, seperti semua dewa, ingin menaklukkan keseluruhan manusia; ia tidak puas sebelum ia menyerahkan padanya tidak hanya rohnya, tetapi diri fisiknya sendiri. Memuja cinta adalah penderitaan, puncaknya adalah pengorbanan diri, bunuh-diri.” (Karl Marx dan Frederick Engels: THE HOLY FAMILY atau CRITIQUE OF CRITICAL CRITIQUE)

Apakah ketakutan-ketakutan bakal menjadi kelemahanku untuk mendapatkan keindahan? Apakah ketakutan telah menjadi karib pada saban sakit yang pelik? Aku ingin pergi hari ini. Pada kota yang tidak pernah ditemukan oleh manusia dan aku tidak menemukan manusia didalamnya. Dan di dalam kota tak berpenghuni itu, aku akan berdiam menikmati kesendirian bersama alam. Pohon-pohon bakal menjadi teman menuang gelisah yang pasrah. Angin-angin bakal menjadi teman sejawatku sebagai penyampai pesan pada kehidupan. Dan batu-batu bakal menjadi tempat bersemedi paling hakiki. Beberapa daun yang telah menguning bakal menjadi abjad syairku dan beberapa ranting pohon bakal menjadi pena yang tidak pernah berdusta pada cintanya. Dan beberapa musim bakal menjadi waktu yang tidak pernah membohongi kebenaran. Adakah aku bakal menjadi malaikat dalam kesendirian yang pengap? Ataukah aku bakal mengejawantah menjadi hantu-hantu kecil yang mencari kedamaian abadi? Apakah dalam keadaan seperti itu aku telah menyatu pada alam? Yang kedamaian ku terletak pada munajat-munajat pada Tuhannya? Ataukah telah menjadi kematian? Tidaklah aku sadari bahwa aku masih saja jatuh. Tenggelam dalam keteduhan yang asing di wajah purnama. Aku hidup ataukah telah mati?

#D’Jbr_310522-19.56

Komentar

Postingan Populer