Puisi: Sabda_AL "Tangisan Rindu Gazel 3"
Burung-burung mengeja di pagi harinya. Mencuri beberapa butir gandum dari sang petani. Sebuah penafsiran yang begitu sulit. Namun tetap seperti biasa, cahaya semakin meninggi pada bagian dasar permukaan bumi. Dan aku, masih saja tetap asyik dalam kesendirian. Diantara penantian beberapa ihwal aku dapatkan. Aku tidak sedang suka. Dan aku tidak lagi sedang duka. Aku tidak bisa merasakan kembali dari keduanya. Terlalu hambar tiada rasa. Perjalanan mendidik diriku, hingga aku tidak dapat memaknai apakah hal itu suka atau kah lebih kepada duka? Yang aku ketahui bahwa keduanya adalah beberapa rencana Tuhan. Tidak, aku tidak mendapatkan jawabannya...
Semalam, aku dapatkan wajah sempurna serupa purnama. Tidak ada yang mendapati cahaya nya kecuali diriku. Kelopak mata yang sayu memandang dengan penuh ketakutan-ketakutan pada hilang. Bibir nya merekah bak mawar bergemetar. Mengisyaratkan hati sedang berada pada beberapa pengharapan. Mengenalmu adalah kebanggaan. Memiliki mu adalah kesempurnaan. Dan ditinggalkannya adalah kesakitan. Siapa orang yang tidak ingin sembuh dari sakit? Meski sakit adalah penebusan dosa. Ia tetaplah sakit. Siapa yang tidak sakit. Pada pengharapan yang tanpa disadari, pengharapan itu adalah luka. Aku tidak tahu, bagaimana kegelapan yang sedang menyelimuti samudera hatimu. Yang aku tahu malam ini, aku masih dalam kesejukan memandang mu. Dan yakinlah bahwa aku adalah bagian terkecil dari beberapa isyarat yang Tuhan persaksikan....
Di pesisir pantai yang megah. Tergeletak cahaya yang semakin menepi pada pangkuan gunung-gunung yang kemudian bakal tenggelam bersamaan gelombang lautan. Pasir-pasir hanya tersisa sebidang pijakan pejalan. Dan beberapa karang terdiam menikmati alunan saban gelombang. Sekelompok camar telah menuju pulang. Hanya tersisa sebatang pohon yang masih saja berdiri dengan hati yang telah mati. Ranting nya adalah kesunyian yang mematahkan. Dan desir angin adalah nyanyian kepergian. Daun kuning itu melambai resah tanpa persaksian. Kemudian hening bersamaan. Dibalik tubuhku yang sedang berdiri. Beberapa bintang menyapa dengan salam. Ada gerutu yang tak sampai. Dan ada yang salah pada malam ini. Namun aku tidak mendapatkan kebenaran dan kesalahan! Aku hanya dapati diruku masih saja ditikam diam. Tidak ada suara yang aku dengar. Kecuali tangisan alam yang mewakili diriku pada seribu penantian...
#D’Jbr_260522_0002
Komentar
Posting Komentar