Puisi: Sabda_AL "Rindu"


Dimana akan aku letakkan kedamaian ku? kekasih telah pergi pada kerumunan yang hilang tiada sisa.

Hatinya telah mati sebagaimana putik cempaka diatas nisan dan berguguran menyelami kesunyian makam.

Tanahnya mencengkeram raga kemudian yang tersisa hanya kenang yang bangkai.

Namun salik berkata, "cintanya masih bersemayam pada dirimu wahai anak ku".


Aku adalah keterdiaman sebongkah batu yang tak dapat berteriak meski badai-badai kesakitan menampar.

Menyelami dirinya dengan penuh keluwesan dan yang tersisa hanya kepulangan jiwa pada tempat yang semestinya.

Tuhan telah meridhoi diriku pada kehilangan kota-kota yang runtuh kedamaian nya.

Serupa terjarah dan aku adalah korban pada waktu yang tak sepatutnya dipersembahkan.


Tuhan begitu asih padaku yang selalu merundung sedih dalam kesendirian dengan mempertemukan aku padanya.

Kasih, Tuhan begitu Maha pada sebab-sebab langit yang kian cerah di pelukan hati.

begitu Asih pada nyanyian rembulan yang kian menipis seraya menyalakan keteduhannya.

Aku ingin bersimpuh pada-Nya yang Asih dan meminta rinduku dikembalikan sebagaimana aku menemukan aroma keteduhan di bawah putik mawar.


Kasih, tak bisakah engkau menjenguk rinduku hari ini yang semakin keras dan ratapan hati yang menjunjung tinggi mencapai kematian?

pintalah pada Tuhan mu yang Asih itu, untuk mengobati rindunya seorang perindu yang hari ini tertidur diantara pelukan bayangmu.

Tidak ada yang mengetahui kematianku hari ini. pun mereka yang memburu mu sebagaimana pejarah yang dahaga pada wajah surgawi itu.

Aku ingin tetap hidup dalam kedamaian rembulan di bawah kelopak matamu dan beberapa ketunggalan bintang yang meninggi kemudian tersambut oleh matahari.


#Jbr, 29/01/22.0831

Na_

Komentar

Postingan Populer